KESEHATAN KELAS XI
HIV AIDS
Arti HIV / AIDS
HIV : Human
Immuno Deficiency Virus
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.
Acquired artinya di dapat
Immune artinya kekebalan tubuh
Syndrome artinya kumpulan gejala penyakit
AIDS adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat
menurunnya kekebalan tubuh. Menurunnya kekebalan tubuh disebabkan oleh virus
HIV / Human immunodeficiency Virus, yang mengurangi kekebalan tubuh manusia
HIV yaitu virus atau jasad renik
yang sangat kecil yang menyerang system kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS
merupakan kumpulan gejala dan tanda penyakit. Seorang pengidap HIV karena daya
tahan tubuhnya terganggu, maka ia mudah terserang penyakit, bahkan serangan
sesuatu penyakit yang untuk oranglain dapat digolongkan sebagai penyakit
ringan, bagi seorang pengidap HIV atau penderita AIDS penyakit tersebut dapat
menjadi berat, bahkan dapat menimbulkan kematian.
1.
Bahaya AIDS / HIV
Penyebab penyakit AIDS adalah
virus HIV yang ditularkan melalui airan tubuh manusia, misalnya darah, air
mani, dan cairan vagina. Virus HIV akan menyerang sel –sel darah putih sehingga
system kekebalan tubuh akan menurun. Hal – hal yang menyebabkan penularan HIV
sangat cepat, anatara lain sebagai berikut :
a)
Bandara
Internasional, elabuhan laut, jaringan jalan raya sebagai pintu masuk
penyebaran penularan HIV
b)
Mudahnya melintas
batas ke Negara – Negara tetangga yang tingkat penyakit AIDS/HIVnya tinggi
c)
Banyaknya kelomok
berisiko tinggi menularkan penyakit AIDS/HIV
d)
Kecenderungan
melakukan perilaku seks bebas
Gejala – gejala yang perlu
diwaspadai terkena HIV antara lain :
a)
Hilangnya berat
badan tanpa alasan melebihi 5 kg
b)
Demam yang selalu
timbul serta keringat dimalam hari
c)
Rasa capek yang
bertahan tanpa sebab yang jelas
d) Diare
yang kronis
e)
Membengkaknya
kelenjar limfa
f)
Batuk kering yang
bertahan lama
g)
Bintik – bintik
putih atau nyeri yang tidak biasa pada lidah atau mulut
HIV Menjadi AIDS
Satu – satunya cara yang paling
meyakinkan adalah dengan tes HIV.
Tahapan – tahapan HIV menjadi
AIDS adalah sebagai berikut:
a)
Tahap awal infeksi
HIV
Gejalanya mirip influenza, tapi
haya berlangsung beberapa hari atau minggu kemudian hilang sendiri.
b)
Tahap tanpa gejala
Meskipun tidak menunjukan gejala,
tapi pada tes darah ditemukan anti bodi HIV, yang berlangsung 5 – 7 tahun.
c)
Tahap ARC ( AIDS
Related Complex)
Muncul dua gejala atau lebih,
misalnya demam disertai keringat malam hari selama lebih dari 3 bulan, berat
badan turun hingga 10% lebih.
d)
Tahap AIDS
Muncul infeksi oportunistik,
kanker kulit, dan getah bening karena kekebalan tubuh telah rusak.
e)
Tahap gangguan otak
atau susunan syaraf pusat
Mengakibatkan gangguan mental
yang dapat mengakibatkan kematian.
Penularan
HIV/ AIDS
Orang yang beresiko tinggi
terinfeksi HIV adalah sebagai berikut :
- Hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV
- Penggunaan jarum suntik, tindik, dan tato yang tidak steril
- Tranfusi darah yang tercemar HIV
- Bayi yang selama kehamilan, persalinan atau menyusui dari ibu yang terkena infeksi HIV
Cara penularan HIv ada tiga macam,
yaitu :
- Hubungan seksual baik secara vaginal, oral, maupun anal dengan pengidap HIV. Ini yang paling umum meliputi 80 – 90% total kasus sedunia.
- Kontak langsung dengan darah, produk darah atau jarum suntik. Tranfusi darah atau produk darah yang tercemar mempunyai resiko sampai lebih dari 90%, ditemukan 3 – 5 % total kasus sedunia.
- Transmisi secara vertical dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya melalui plasenta. Resiko penularannya 25 – 40% dan terdapat kurang dari 0,1% total kasus sedunia.
Penyakit HIV tidak menular melalui
kontak sehari – hari dengan penderita HIV dan tidak menular melalui udara. Jadi
tidak menular dan tidak berbahaya jika :
- Sentuhan, batuk, bersin, ciuman
- Feses, urin, air liur, keringat, air mata
- Donor darah
- Kolam renang
- Penggunaan toilet umum
- Gigitan serangga
- Menggunakan telepon
Gejala
Infeksi HIV/ AIDS
- Beberapa hari atau beberapa minggu setelah terjadi infeksi HIV, seseorang mungkin akan menjadi sakit dengan gejala – gejala seperti flu, yaitu :
1. Demam
2. Rasa lemah dan lesu
3. Sendi – sendi terasa nyeri
4. Batuk
5. Nyeri tenggorokan
Gejala – gejala ini hanya
berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu saja, lalu hilang dengan
sendirinya.
- Selajutnya memasuki tahap dimana sudah ulai timbul gejala – gejala, tetapi gejala – gejala inipun mirip yang terjadi pada penyakit lain, yaitu :
1. Demam berkepanjangan
2. Penurunan berat badan (lebih dari
10% dalam waktu 3 hari)
3. Kelemahan tubuh yang mngganggu/
menurunkan aktifitas fisik sehari – hari
4. Pembengkakan kelenjar : dileher,
lipat paha, da ketiak
5. Diare atau mencret terus – menerus
tanpa sebab yang jelas
6. Baruk dan sesak nafas lebih dari 1
bulan secara terus-menerus
- Kekebalan Tubuh Penderita Sangat Menurun
Pada tahap ini penderita mudah
diserang penyakit lain, dan disebut infeksi oportunistik. Maksudnya adalah
penyakit yang disebabkan baik oleh virus lain, bakteri, jamur atau parasit,
yang bila system kekebalan tubuh baik kuman ini dapat dikendalikan oleh tubuh.
Pada tahap ini pengidap HIV telah
berkembang mnjadi penderita AIDS, gejala AIDS yang timbul adalah :
1. Radang paru
2. Radang saluran pencernaan
3. Radang karena jamur dimulut dan
kerongkongan
4. Kanker kulit
5. TBC
6. Gangguan susunan saraf
Menghindari Penularan HIV/AIDS
Sampai saat ini belum ada obat
untuk menyembuhkan maupun vaksin untuk mencegah penyakit ini. Upaya – upaya
pencegahan harus dikaitkan dengan bagaimana penularan AIDS dapat terjadi, yang
telah dibicarakan sebelumnya.
a.
Pencegahan Penularan
melalui hubungan Seksual
Telah kita ketahui bahwa infeksi
HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual. Oleh sebab itu, pencegahan
penularan mealalui hubungan seksual memegang peranan paling penting.
Untuk itu setiap orang perlu memiliki perilaku seksual yang aman dan
bertanggungjawab, yaitu :
a)
Tidak melakukan
hubungan seksual sebelum menikah (abstinence). Hubungan seksual hanya
dilakukan melalui pernikahan yang sah.
b)
Bila telah menikah,
hanya mengadakan hubungan seksual dengan pasangan sendiri, yaitu suami atau
isteri sendiri. Tidak melakukan hubungan seksual diluar nikah. (Be Faitful)
c)
Bila salah satu
pasangan sudah terinfeksi HIV maka dalam melakukan hubungan seksual harus
menggunakan kondom (Condom) secara benar dan konsisten.
Ketiga konsep pencegahan diatas
ini dikenal dengan istilah ABC ( Abtinence, Be Faitful, Condom)
d)
Mempertebal iman dan
takwa agar tidak terjerumus kedalam hubungan – hubungan seksual diluar nikah.
Penularan Melalui Darah
Penularan HIV melalui darah
menuntut kita untuk berhati – hati dalam berbagai tindakan yang berhubungan
dengan darah maupun produk darah dan plasma.
Ø
Tranfusi darah
Harus dipastikan bahwa darah yang
digunakan untuk tranfusi tidak tercemar HIV. Perlu dianjurkan pada seseorang
yang HIV(+) atau mengidap virus HIV dalam darahnya, untuk tidak menjadi donor
darah. Begitu pula dengan mereka yang mempunyai perilaku berisiko tinggi,
misalnya sering melakukan hubungan seksual dengan ganti – ganti pasangan.
Ø
Penggunaan produk darah dan
plasma
Sama halnya dengan darah yang
digunakan tranfusi, maka terhadap produk darah dan plasma (cairan darah) harus
dipastikan tidak tercemar HIV.
Ø
Penggunaan alat suntik, dan alat
lain yang dapat melukai kulit
Penggunaan alat – alat seperti
jarum, jarum suntik, alat cukur, alat tusuk untuk tindik, perlu memperhatikan
sterilisasinya. Tindakan disinfeksi dengan pemanasan atau larutan desinfektan
merupakan tindakan yang sangat penting untuk dilakukan.
a.
Pencegahan Penularan
dari Ibu kepada Anak
Seorang ibu yang terinfeksi HV,
risiko penularan terhadap janin yang dikandungnya atau bayinya cukup besar,
kemungkinan 30 – 40 %. Oleh karena itu, bagi seorang ibu yang sudah terinfeksi
HIV dianjurkan untk mempertimbangkan kembali tentang kehamilan.
Mlihat kondisi diatas, yang bias
kita lakukan untuk pencegahan penyebaran HIV adalah berperilaku yang
bertanggungjawab baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain, dan
berperilaku sesuai dengan tuntunan norma agama dan sosial yang berlaku
dimasyarakat.
Ada dua diagnose laboratorium
yang dapat dilakukan, yaitu :
1)
Cara langsung, yaitu
dengan isolasi virus dari sampel, umumnya menggunakan mikroskop electron dan
deteksi antigen virus. Salah satu deteksi antigen virus adalah dengan Polymerase
Chain Reaction (PCR).
2)
Cara tidak langsung,
yaitu denga melihat respon zat anti spesifik tes, misalnya :
a)
ELISA, sensivitasnya
tinggi (98,1 – 100%), biasanya memberikan hasil positif 2-3 tahun setelah
infeksi.
b)
WESTERN BLOT,
spesifitasnya tinggi ( 99-100%), pemeriksaan ini cukup sulit, mahal, dan
membutuhkan waktu sekitar 24 jam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.